Tampilkan postingan dengan label Thaharah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Thaharah. Tampilkan semua postingan
Rukun dan Tata Cara Mandi Wajib

Rukun dan Tata Cara Mandi Wajib

Setelah sebelumnya kita membahas tentang Pengertian Mandi Wajib dan penyebabnya, sekarang kita masuk pembahasan selanjutnya, yaitu Rukun dan Tata Cara Mandi Wajib. Hal ini perlu diperhatikan, karena jika rukun tidak terpenuhi, maka mandi waji tidak sah. Jika mandi wajib tidak sah, maka semua ibadah kita juga tidak sah.
Rukun dan Tata Cara Mandi Wajib

Rukun Mandi Wajib ada 3 :
  1. Niat
  2. Bila ada najis pada tubuh, membasuhnya bisa berbarengan dengan mandi wajib. Artinya membersihkan najis boleh disatukan dengan mandi wajib.
  3. Meratakan air ke seluruh anggota badan yang zahir (terlihat) termasuk semua lipatan badan. Meliputi kulit, rambut dan bulu yang ada di badan, sama bulu-bulu yang jarang ataupun lebat.

NIAT MANDI WAJIB


نويت الغسل لرفع الحدث الأكبر فرضا لله تعالى

"Saya niat mandi untuk menghilangkan hadats besar karena Allah Ta'ala".

Niat ini hanya diucapkan di dalam hati dan tidak perlu diucapkan secara lisan. Niat ini diucapkan bersamaan dengan basuhan pertama pada anggota badan serta meratakannya ke seluruh tubuh.

Untuk perempuan yang mandi wajib kerana hadas haid niat mandi wajibnya adalah “Sengaja aku membersihkan hadats haid kerana Allah Taala.” Sedangkan untuk yang habis nifas, niat mandi wajibnya ialah “Sengaja aku membersihkan hadats nifas kerana Allah Taala”.
Niat mandi wajib hendaklah diucapkan apabila mulai mengenakan air ke bagian anggota mandi.Bila niat dilafalkan setelah seseorang telah membasuh anggota badannya, mandi wajibnya tidak sah dan dia mesti mengulang kembali niatnya ketika memulai membasuhkan air ke seluruh anggota badannya. Begitupun jika seseorang berniat sebelum air sampai ke badan, niat itu juga tidak sah dan dia harus mengulang kembali niatnya sambil membasuhkan air ke seluruh anggota badannya.

Orang yang tidak berniat mandi wajib tidak memenuhi rukun mandi wajib dan dengan itu tidak boleh dikatakan telah melakukan mandi wajib. Dia hanya sekadar mengerjakan mandi biasadan masih terikat dengan larangan yang dikenakan untuk orang yang berhadas besar.

TATA CARA MANDI WAJIB SESUDAH HAID

Dalam pandangan agama Islam, haid merupakan sesuatu yang najis dan akan menjadi penghalang para wanita dalam melaksanakan ibadah sholat dan puasa. Oleh sebab itu maka setelah selesai haid seorang wanita harus bersuci dengan cara yang lebih dikenal dengan sebutan mandi wajib haid.

Aturan-aturan pelaksanaan dan tata cara mandi wajib setelah haid harus disesuaikan dengan tuntunan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam, dan dalam hal ini dilaksanakan sesuai dengan yang diriwayatkan pada hadits oleh Muslim dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha bahwa Asma’ binti Syakal Radhiyallahu ‘Anha bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tentang mandi haidh, maka beliau bersabda:

"Salah seorang di antara kalian (wanita) mengambil air dan sidrahnya (daun pohon bidara, atau boleh juga digunakan pengganti sidr seperti: sabun dan semacamnya-pent) kemudian dia bersuci dan membaguskan bersucinya, kemudian dia menuangkan air di atas kepalanya lalu menggosok-gosokkanny­a dengan kuat sehingga air sampai pada kulit kepalanya, kemudian dia menyiramkan air ke seluruh badannya, lalu mengambil sepotong kain atau kapas yang diberi minyak wangi kasturi, kemudian dia bersuci dengannya. Maka Asma’ berkata: “Bagaimana aku bersuci dengannya?” Beliau bersabda: “Maha Suci Allah" maka ‘Aisyah berkata kepada Asma’: "Engkau mengikuti (mengusap) bekas darah (dengan kain/kapas itu)."

Dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha bahwa seorang wanita bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam tentang mandi dari haid. Maka beliau memerintahkannya tata cara bersuci, beliau bersabda:

“Hendaklah dia mengambil sepotong kapas atau kain yang diberi minyak wangi kemudian bersucilah dengannya. Wanita itu berkata: “Bagaimana caranya aku bersuci dengannya?” Beliau bersabda: “Maha Suci Allah bersucilah!” Maka ‘Aisyah menarik wanita itu kemudian berkata: “Ikutilah (usaplah) olehmu bekas darah itu dengannya(potongan kain/kapas).”(HR. Muslim: 332)

An-Nawawi rahimahullah berkata (1/628):
“Jumhur ulama berkata (bekas darah) adalah farji (kemaluan).” Beliau berkata (1/627): “Diantara sunah bagi wanita yang mandi dari haid adalah mengambil minyak wangi kemudian menuangkan pada kapas, kain atau semacamnya, lalu memasukkannya ke dalam farjinya setelah selesai mandi, hal ini disukai juga bagi wanita-wanita yang nifas karena nifas adalah haid.” (Dinukil dari Jami’ Ahkaam an-Nisaa’: 117 juz: 1).

Syaikh Mushthafa Al-’Adawy berkata:
“Wajib bagi wanita untuk memastikan sampainya air ke pangkal rambutnya pada waktu mandinya dari haidh baik dengan menguraikan jalinan rambut atau tidak.Apabila air tidak dapat sampai pada pangkal rambut kecuali dengan menguraikan jalinan rambut maka dia (wanita tersebut) menguraikannya-bukan­ karena menguraikan jalinan rambut adalah wajib-tetapi agar air dapat sampai ke pangkal rambutnya, Wallahu A’lam.” (Dinukil dari Jami’ Ahkaam An-Nisaa’ hal: 121-122 juz: 1 cet: Daar As-Sunah).

Dengan beberapa hadist tersebut, maka beberapa hal yang wajib dilakukan oleh seorang wanita apabila telah bersih dari haid adalah membersihkan seluruh anggota badan minimal dengan menyiramkan air keseluruh badan sampai kepangkal rambut. Adapun tata cara mandi wajib haid secara ringkas dapat dilakukan sebagai berikut :

Cara mandi wajib yang paling baik adalah mengikuti cara yang diriwayatkan oleh Imam At-Tirmizi.
  1. Membaca bismillah sambil berniat untuk membersihkan hadas besar .
  2. Membasuh tangan sebanyak 3 kali.
  3. Membasuh alat kelamin dari kotoran dan najis.
  4. Mengambil wuduk sebagaimana biasa kecuali kaki. Kaki dibasuh setelah mandi nanti.
  5. Membasuh keseluruhan rambut di kepala.
  6. Membasuh kepala berserta dengan telinga sebanyak 3 kali dengan 3 kali menimba air.
  7. Meratakan air ke seluruh tubuh di sebelah lambung kanan dari atas sampai ke bawah.
  8. Meratakan air ke seluruh tubuh di sebelah lambung kiri dari atas sampai ke bawah.
  9. Menggosok bagian-bagian yang sulit seperti pusar, ketiak, lutut dan lain-lain supaya terkena air.
  10. Membasuh kaki.
Demikianlah Rukun dan Tata Cara dalam mandi wajib, semoga bermanfaat.
Pengertian Mandi Wajib dan Sebab Diwajibkannya Mandi Wajib

Pengertian Mandi Wajib dan Sebab Diwajibkannya Mandi Wajib

Pengertian Mandi Wajib dan Sebab Diwajibkannya Mandi Wajib
Islam sangat memperhatikan kebersihan. Baik itu kebersihan diri kita sendiri, ataupun lingkungan sekitar. Hal ini terbukti dengan disyaratkannya bersuci sebelum melakukan ibadah wajib. Dan jika kita tidak bersuci, maka ibadah kita tidak sah. Bersuci dalam hal ini membersihkan diri sendiri ada 2 kategori. Yang pertama adalah bersuci dari hadats besar, dan yang kedua bersuci dari hadats kecil.

Pada kesempatan ini kita akan membahas tentang cara membersihkan diri dari hadats besar. Yaitu dengan mandi wajib atau junub. Mandi wajib atau mandi besar atau mandi junub adalah padanan kata yang sama. Kenapa disebut mandi wajib? Karena mandi ini hukumnya wajib setelah istimta', keluarnya mani atau habisnya masa haidh atau nifas. Istilah mandi besar adalah istilah yang datang dari Indonesia sendiri. Ini karena seseorang sedang menyandang hadats besar (junub). Seperti yang difirmankan Allah:


و إن كنتم جنبا فاطهروا
Dan jika kalian sedang dalam keadaan hadats maka bersucilah (mandi).

Mandi junub wajib dilakukan untuk orang-orang yang menyandang hadats besar karena hadats besar sendiri tidak bisa dihilangkan dengan berwudhu saja. Jika ia tidak mandi, maka shalatnya tidak sah.

Sebab-sebab Diwajibkannya Mandi

Seperti keterangan diatas, mandi besar dilakukan karena hadats besar. Adapun hadats besar ini diantaranya adalah:
1. Jima' (berhubungan suami istri)
Walaupun kemaluan laki-laki belum mengeluarkan mani setelah dimasukkan ke faraj, atau belum dimasukkan tapi sudah keluar mani. Maka wajib keduanya untuk mandi besar setelah melakukannya.
2. Keluarnya mani
Walaupun tidak sedang jima' tapi jika seseorang mengeluarkan mani, maka wajib mandi. Baik itu keluar saat tidur, atau melamun dan sebagainya.
3. Mati, kecuali mati syahid karena perang di Jalan Allah. Mayat tidak dimandikan karena agar darah menjadi bukti bahwa ia syahid di jalan Allah.
4. Keluar haid bagi perempuan.
Sebagaimana hadits Rasulullah: “Jika datang haid, maka tinggalkan solat. Dan jika telah lewat, maka mandi dan Solatlah” (HR. Al Bukhari)
5. Keluar nifas (darah yang keluar mengiringi bayi ketika perempuan bersalin).
6. Wiladah atau melahirkan anak.
7. Masuk Islam bagi orang yang sebelumnya kafir. Dari Qais bin Ashim, ia menceritakan bahwa ketika ia masuk Islam, Nabi saw menyuruhnya mandi dengan air dan bidara (HR. At Tirmidzi dan Abu Dawud).

Selanjutnya: Rukun dan Tata Cara Mandi Wajib.